Kamis, 16 Juli 2015

Mengampuni

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat 18:21-22).

Ketika menulis permenungan ini, saya diingatkan dengan permainan bom bom car.. Saya jadi teringath bagaimana jika ketika kita bermain bom-bom car, kita seakan akan diminta untuk membalas bom-bom car tersebut. Ketika mobil kita ditabrak, kita harus membalasna dengan lebih kencang lagi.. Tetapi Firman Tuhan diatas seperti bertolak belakang, di mana kita justru di minta untuk mengampuni orang yang bersalah sama kita. Susah nggak sih? Tentu, sangath susah sekali..

Tetapi, pertanyaanna adalah, kenapa sih kita manusia sangathlah sulit untuk mengampuni sesama?

The reason is :

1). Karena kita manusia masih hidup didalam kedagingan dan masih egois hanya ingin mementingkan diri sendiri dan bukan orang lain.

Kita mungkin suka lupa jika mengampuni adalah salah satu prinsip memberi. Karena pengampunan itu adalah memberikan sebuah pengampunan. Kita yang masih hidup dalam kedagingan kita, membuat diri kita egois sehingga hal2 yang paling simple ajh bisa membuat kita marah dan tidak mau mengampuni sesama.

Contoh : Saya punya seorang teman (sebutlah si A), yang sulit bangeth mengampuni teman saya (sebut si B) hanya karena si B ini tidak mengembalikan uang yang dipinjam dari si A.. Contoh yang sangath simple bukan? Mungkin jika si A, ikhlas tidak mengungkit2 lagi perihal hutang piutang tersebut, mungkin Tuhan akan menggantikanna dengan yang lebih baik bukan?

Hal yang menurut saya simple lagi, tetapi ternyata cukup sulit untuk orang lain. Saat yang kita fokuskan adalah harta kita, membuat kita sulit untuk mengampuni. Saya jadi teringath dengan cerita mengenai Paus Yohanes Paulus II di mana dia sempat ditembak oleh Mehmet Ali Gaca, dan kita lihat bagaimana dia mengampuni orang yang menembaknya dan mengunjungi Mehmet Ali Gaca ke penjara. Kita bisa belajar bagaimana seoranag Paus tidak egois. Di mana ia bahkan mau mengunjungi penembakna. Luar biasa bukan? Bisakah kita seperti itu?

2). Karena orang tersebut terlalu sering menyakiti hati kita.

Untuk contoh kali ini saya ambil dari diri saya sendiri. Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu mudah untuk percaya dengan orang lain. Kenapa? Karena saya pernah mengalami rasa sakitna dibohongi oleh orang lain. Teman deketh saya lagi! Dan satu team pelayanan di paroki saya.. Hal ini benar2 membuat saya sendiri bener2 lebih hati-hati di dalam mengambil suatu keputusan. Mungkin ada orang yang berkata, kenapa sih saya susah bangeth untuk percaya sama orang lain? Ternyata sedikith banyak karena saya sendiri tidak mudah untuk percaya kepada orang lain..

3). Karena begitu besar luka yang ditimbulkan orang tersebut sehingga terlalu susah untuk diampuni.

Ada seorang teman saya yang sulit sekali untuk mengampuni mamana karena dia merasa mamana adalah seorang pelayan Tuhan, tetapi mamana telah bercerai dengan papana. Ternyata dari setiap omelan, ocehan mamana tersebut, anak ini hanya bisa diam saja. Benar2 diam seribu bahasa dan dia hanya bisa menangis ketika saya berbicara kepadana untuk mengampuni mamana. Begitu sulitna dia mengampuni karena dia pendam terus amarah ini di dalam dirinya.

Di sini, kita mau belajar dari Yesus di mana Yesus mau untuk mengampuni setiap orang yang menyalibkan Dia. Tuhan Yesus mengampuni ahli farisi dan taurat yang menuntut Dia untuk mati di kayu salib. Mengampuni memang adalah proses di dalam hidup, tetapi terlebih dari itu, mengampuni adalah suatu pilihan hidup. Sekecil apapun luka kita, kita harus mau belajar mengampuni, meskipun itu susah. Mulai dari hal yang kecil dengan cinta yang besar.

Kemudian, apa sih dampakna jika kita tidak mau mengampuni?

Seperti tertulis dalam Matius 6:15 dikatakan jikalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain maka Bapa di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.

Tuhan cuman bilang, dengan kita mengampuni, kita juga akan diampuni. Kenapa Tuhan bilang seperti itu? Karena saat kita menyimpan dendam dan amarah, sebenarnya kita sudah berdosa. Tuhan akan mengampuni setiap dendam dan amarah kita dengan hal yang simple.. Mengampuni.. Hanya itu..

Ada 3 prinsip yang salah dari mengampuni yang banyak orang lakukan.

1). Mengampuni tidak berarti melupakan.

Ini rasana salah satu hal yang sulit. Mengampuni dan Melupakan. Sepertina kita lebih mudah untuk mengungkit kesalahan yang orang lain perbuat, bahkan menjadikanna bahan ceng-cengan untuk diri kita sendiri. Seperti hal yang simple ajh. Ada teman saya yang terkenal dengan sifat "playboy"na sehingga dia tidak pernah menentukan wanita mana yang akan menjadi pendamping hidupna. Mungkin ada banyak wanita yang tersakiti karena temen saya ini, dan karena tersakiti, membuat wanita-wanita ini hanya bisa berbicara hal negative mengenai pria ini. Bahasa gaulna sekarang ini yaaahhh "sakitna ntuh di sini!"

Satu hal yang pasti, memory kesalahan itu akan tetap ada di dalam pikiran kita. Kita diberikan Tuhan otak yang begitu luar biasa untuk menyimpan memory untuk jangka panjang. Pertanyaanna, apakah kita mau mengampuni dan menghapus memory buruk tersebut dan dijadikan pembelajaran hidup kita? Atau kita mau mengampuni dan memasukkanna ke dalam recycle bin kita?

2). Mengampuni tidak berarti kita mendapat keadilan.

Banyak orang merasa dengan mengampuni, maka keadilan itu tidak didapatkan karena seharusna orang yang salah yang meminta maaf kepada kita, tetapi mengapa saya yang harus minta maaf? Tetapi ternyata mengampuni membuat diri kita lega. Itu jauh lebih indah daripada kita hanya mencari keadilan. Kita juga harus ingat jika hakim di atas segala hakim adalah Tuhan Yesus dan bukan diri kita sendiri.

3). Mengampuni tidak menjamin adanya perubahan.

Apa yang terjadi setelah pengampunan diberikan? Akankah orang yang diampuni berubah? Jangan pernah meminta orang lain berubah sebelum hidup kita berubah menjadi lebih baik. Tiba-tiba saya teringath dengan kata-kata dari Tuhan Yesus, saat ada seorang wanita ingin dilempari batu oleh ahli farisi dan taurat, dan kemudian Yesus hanya menulis di tanah dengan tulisan siapa yang merasa tidak berdosa hendaklah dia yang melempar batu duluan. Kita mungkin seperti orang farisi yang tidak ngaca jika kita juga adalah manusia berdosa. So, jangan minta orang lain berubah dahulu jika kita belum berubah.

Soooo,, apa ajh sih alasan kita untuk mengampuni sesama?
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kol 3:13).

Gbu.. Tuhan Yesus memberkati..
-josephine gabrielle-

Sumber:
http://artikel.sabda.org/indahnya_mengampuni
http://www.warungsatekamu.org/2015/02/tiga-hal-yang-kugumulkan-dalam-mengampuni/

Selasa, 14 Juli 2015

Kerohanianmu Hanya Ilusi

Sebuah refleksi iman yang sangath menyentuh hati saya sendiri sebagai seorang pelayan Tuhan. Terkadang kita memang menganggap diri kita sebagai pelayan Tuhan adalah yang terbaik, benar2 jauh lebih baik daripada orang yang belum mengenal Tuhan Yesus sendiri. Tetapi, menurut saya, ini adalah salah satu refleksi tajam untuk semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, pelayan Tuhan, mengaku sebagai orang Kristen/Katolik, mengaku sebagai orang yang sangath suci, tetapi ternyata semuana itu hanyalah sebuah ilusi belaka..


Cerita ini tidak untuk menuding atau menghakimi.
Cerita ini nyata dan dapat terjadi di kehidupan siapapun.

Jangan pernah pikir kamu religius, tahu banyak tentang Alkitab, anak Tuhan yang baik. Manusia telah jatuh dalam dosa. Dosamu menghabiskan waktumu, merabunkan matamu terhadap kebenaran, membiaskan makna menjadi sekedar memori, bahkan angin lalu.

Status Kristenmu telah lebih dari 10 tahun. Selama itu pula hal-hal rohani kamu anggap pelajaran. Demikianlah konsep mata pelajaran agama dan sekolah minggu masa kini, bukan? Selama umurmu kamu rabun. Kamu sudah membaca Alkitab, berdoa, rajin ke gereja. Kamu bahkan sudah menceritakan Tuhan Yesus kepada temanmu. Kamu menyadari dirimu sebagai pribadi rohani yang cinta Tuhan. Padahal semuanya hanya ilusi.

Kamu menyebut Aku tak mengenalmu. Kamu bilang Aku mengatakan banyak hal yang telah kamu ketahui dari hasil membaca Alkitabmu selama lebih dari 10 tahun, membosankan! Kembali kamu menganggap dirimu sebagai pribadi rohani yang cinta Tuhan. Padahal semuanya hanya ilusi.

Kamu percaya Yesus Juruselamat. Kamu menuntut diri bertekun dalam pengajaran dan iman. Sebab kamu ingat Yesus menyuruhmu berjaga-jaga menantikan akhir zaman yang datangnya seperti pencuri. Kamu membaca Alkitab dan berdoa hampir setiap hari. Orang tuamu bangga, teman-temanmu bangga terhadap kamu. “Luar biasa!” kata mereka. Padahal sebagian besar hanya ilusi.

Saat ujian, tak lupa kamu berdoa dan berkata bahwa nilai yang kamu peroleh untuk kemuliaan nama Tuhan. Kamu mendapat nilai yang baik, lalu apa yang kamu lakukan? Kamu berdoa berterima kasih kepada Tuhan. Kamu mendapat nilai yang buruk, lalu apa yang kamu katakan? “Maafkan aku, Tuhan. Aku gagal memuliakan nama-Mu. Tidak sekedar next time, tetapi apa yang kulakukan kemudian harus memuliakan nama-Mu.” Apa maksudmu? Mengatakan itu untuk kemuliaan Tuhan dengan tujuan agar kamu mendapat nilai yang baik? Seolah-olah nilaimu itu adalah ukuran seberapa hebatnya Tuhan.

Status Kristenmu telah lebih dari 10 tahun. Alkitab belum habis kamu mengerti. Doamu tidak benar-benar tertuju kepada Tuhan. Kamu ke gereja karena kamu merasa butuh, merasa itu kebiasaan, atau merasa itu kewajiban, bahkan merasa itu cara tetap bertekun dalam pengajaran dan iman. Di gereja kamu mengantuk dan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu harus tetap terjaga. Kamu tidak benar-benar ada di sana. Sadarilah kamu melamun. Sadarilah kamu mendengar dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi hal yang kamu terima tak pernah tertancap, mengakar dan bertumbuh di hatimu.

Memang betul kamu rajin ke gereja. Good job buatmu, tetapi kamu tidak benar-benar menggerejakan gerejamu. Sudahkah kamu ada di gereja untuk saling menguatkan satu sama lain? Atau hanya mengomentari bahwa khotbahnya kurang bagus. Atau melihat permainan musik yang baik dan menoleh saat salah satu personil melakukan kesalahan atau melodi menarik. Atau bernyanyi agar hatimu tenang. Atau jauh dari masalah-masalahmu sesaat. Atau menggunakan gerejamu untuk mengekspresikan tingkat kerohanianmu kepada makhluk yang kamu anggap bisa melihatmu.

Doamu tidak membawamu hanyut dalam pembicaraan yang sangat dekat kepada Tuhan. Tidak pernah kamu sehanyut saat berbicara dengan sahabatmu. Sadarilah kamu hanya melapor kepada Tuhan tentang apa yang kamu alami hari ini. Sadarilah kamu hanya minta diberkati. Sadarilah 90% jiwamu tersangkut di kasur tempat kamu berdoa. Sadarilah kamu melamun sambil menutup mata saat doa dikatakan oleh pendetamu.

Pantaslah Tuhan berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Maksudnya ternyata adalah bahwa kita sangat-sangat sulit untuk berdoa, walau kita bisa melakukannya. Sangat sulit untuk baca Alkitab, walau kita bisa baca komik berjibun. Sangat sulit untuk ikut persekutuan doa, walau tinggal jalan kaki dekat kost. Sangat sulit untuk menikmati kebersamaan dengan Tuhan, walau kita beserta Tuhan. Rabunlah kita karena dosa. Tetapi kita belum pernah berusaha sekuat tenaga memegang erat tangan Tuhan melawan dosa-dosa tersebut, karena begitu kecil cinta kita kepada-Nya.

Apa perbedaanmu dibanding seorang ateis, hai anak Tuhan yang baik? Secara gamblang, kamu seorang ateis yang dilabeli tulisan “halal”. Kamu adalah gulanya es teh dosa, mudah larut. Kamu menganggap diri pintar dan berdiri tegak tanpa penopang. Kamu berbangga dengan hal-hal yang disebut rohani padahal semua kamu lakukan untuk dirimu sendiri. Pengenalanmu akan Sang Raja tergerus dalam gemerlap kehebatanmu di berbagai “pelayanan”. Kamu berteori tentang Tuhan, tapi pada praktiknya kamu hidup seolah-olah Tuhan tidak ada.

Maaf, kerohanianmu tidak nyata. Hanya ilusi.

Demikianlah gambaran kecil dari bobroknya kehidupan sang penulis yang tertegur bukan karena ditegur, tetapi disadarkan oleh Tuhan.

Bagaimana dengan hidupmu?

Gbu.. Tuhan Yesus memberkati..
-josephine gabrielle-

Sumber :
http://www.warungsatekamu.org/2014/04/kerohanianmu-hanya-ilusi/

Senin, 13 Juli 2015

GOD's Phone Number


Hello God, I has called You tonight,
To talk a littlte for a while
I need a friend who will listening
To all my anxiety and my trial

You just see, I can't make it
Through a day just on my own..
I need Your love to guide me always
So I will never feel alone anymore

I want to ask You please to keep,
My family safe and sound.
Please come and fill their lives with confidence
For whatever fate they were bound.

Please give me faith, dear God, to face
Each hour throughout the day,
And not to worry over things
I can't change in any way..

I thank you God, for being home
And listening to my call,
For giving me such good advice
When I stumble and fall..

Your number, God, is the only one
That answers every time.
I never get a busy signal,
Never had to pay a dime..

So thank you God!
For listening to all my troubles and my sorrow..
Good night, God! I love You, so much,
And I will call You again tomorrow!

Gbu.. Tuhan Yesus memberkati..
-josephine gabrielle-

LEADERSHIP

Everyone Of You Can Be A Leader..
WHY??

"Ada Potensi yang mengagumkan pada setiap orang.. Percayalah kepada kekuatanmu dan usia mudamu!"
-Andre Gide-

"Saya selalu mengajarkan sesuatu yang tak dapat saya kerjakan, agar saya boleh terjun, untuk belajar mengerjakanna"
-Pablo Picasso-

"Banyak orang yang gagal karena menyerah tanpa menyadari betapa dekatna mereka dengan sebuah kesuksesan & kepemimpinan."
-Thomas E-

Masih juga gak yakin kalo kamu sebenerna adalah seorang PEMIMPIN??
INGATH!!
Panggilan yang kamu jawab akan mengubah dunia jauh menjadi lebih baik demi kamu sendiri, dan juga tentuna orang lain, sebab KAMU ADALAH SEBUAH MASA DEPAN..

Apa ajh sihhh yang dibutuhkan oleh seorang LEADER??
1). ANTUSIASME.
2). IDEALISME.
3). FOCUS.
4). ENERGI/KEKUATAN.

Ketika kalian masih di jenjang Usia Muda/Remaja itulah justru yang membuat perbedaan. Dengarkanlah kalau panggilan kamu adalah sebagai seorang pemimpin..

Tidak hanya kita manusia yang dapath menjadi seorang Leader/Pemimpin loh, bahkan seekor lumba-lumba pun bisa menjadi seorang Pemimpin! 
Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah ditangkap, seekor lumba-lumba dapath mempengaruhi banyak orang untuk berdiri dan memberikan apresiasi tepuk tangan atas atraksi hebatna.

Dan tentu kita sebagai seorang manusia tidak akan pernah kalah daripada seekor lumba-lumba..

So, masih ragu dan gayakin kalo kamu-kamu semua ini adalah seorang LEADER??

"Do Something Now!" daripada "Do Something Later.." atau bahkan "Do Nothing!"

Gbu.. Tuhan Yesus memberkati..
-josephine gabrielle-