Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat 18:21-22).
Ketika menulis permenungan ini, saya diingatkan dengan permainan bom bom car.. Saya jadi teringath bagaimana jika ketika kita bermain bom-bom car, kita seakan akan diminta untuk membalas bom-bom car tersebut. Ketika mobil kita ditabrak, kita harus membalasna dengan lebih kencang lagi.. Tetapi Firman Tuhan diatas seperti bertolak belakang, di mana kita justru di minta untuk mengampuni orang yang bersalah sama kita. Susah nggak sih? Tentu, sangath susah sekali..
Tetapi, pertanyaanna adalah, kenapa sih kita manusia sangathlah sulit untuk mengampuni sesama?
The reason is :
1). Karena kita manusia masih hidup didalam kedagingan dan masih egois hanya ingin mementingkan diri sendiri dan bukan orang lain.
Kita mungkin suka lupa jika mengampuni adalah salah satu prinsip memberi. Karena pengampunan itu adalah memberikan sebuah pengampunan. Kita yang masih hidup dalam kedagingan kita, membuat diri kita egois sehingga hal2 yang paling simple ajh bisa membuat kita marah dan tidak mau mengampuni sesama.
Contoh : Saya punya seorang teman (sebutlah si A), yang sulit bangeth mengampuni teman saya (sebut si B) hanya karena si B ini tidak mengembalikan uang yang dipinjam dari si A.. Contoh yang sangath simple bukan? Mungkin jika si A, ikhlas tidak mengungkit2 lagi perihal hutang piutang tersebut, mungkin Tuhan akan menggantikanna dengan yang lebih baik bukan?
Hal yang menurut saya simple lagi, tetapi ternyata cukup sulit untuk orang lain. Saat yang kita fokuskan adalah harta kita, membuat kita sulit untuk mengampuni. Saya jadi teringath dengan cerita mengenai Paus Yohanes Paulus II di mana dia sempat ditembak oleh Mehmet Ali Gaca, dan kita lihat bagaimana dia mengampuni orang yang menembaknya dan mengunjungi Mehmet Ali Gaca ke penjara. Kita bisa belajar bagaimana seoranag Paus tidak egois. Di mana ia bahkan mau mengunjungi penembakna. Luar biasa bukan? Bisakah kita seperti itu?
2). Karena orang tersebut terlalu sering menyakiti hati kita.
Untuk contoh kali ini saya ambil dari diri saya sendiri. Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu mudah untuk percaya dengan orang lain. Kenapa? Karena saya pernah mengalami rasa sakitna dibohongi oleh orang lain. Teman deketh saya lagi! Dan satu team pelayanan di paroki saya.. Hal ini benar2 membuat saya sendiri bener2 lebih hati-hati di dalam mengambil suatu keputusan. Mungkin ada orang yang berkata, kenapa sih saya susah bangeth untuk percaya sama orang lain? Ternyata sedikith banyak karena saya sendiri tidak mudah untuk percaya kepada orang lain..
3). Karena begitu besar luka yang ditimbulkan orang tersebut sehingga terlalu susah untuk diampuni.
Ada seorang teman saya yang sulit sekali untuk mengampuni mamana karena dia merasa mamana adalah seorang pelayan Tuhan, tetapi mamana telah bercerai dengan papana. Ternyata dari setiap omelan, ocehan mamana tersebut, anak ini hanya bisa diam saja. Benar2 diam seribu bahasa dan dia hanya bisa menangis ketika saya berbicara kepadana untuk mengampuni mamana. Begitu sulitna dia mengampuni karena dia pendam terus amarah ini di dalam dirinya.
Di sini, kita mau belajar dari Yesus di mana Yesus mau untuk mengampuni setiap orang yang menyalibkan Dia. Tuhan Yesus mengampuni ahli farisi dan taurat yang menuntut Dia untuk mati di kayu salib. Mengampuni memang adalah proses di dalam hidup, tetapi terlebih dari itu, mengampuni adalah suatu pilihan hidup. Sekecil apapun luka kita, kita harus mau belajar mengampuni, meskipun itu susah. Mulai dari hal yang kecil dengan cinta yang besar.
Kemudian, apa sih dampakna jika kita tidak mau mengampuni?
Seperti tertulis dalam Matius 6:15 dikatakan jikalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain maka Bapa di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.
Tuhan cuman bilang, dengan kita mengampuni, kita juga akan diampuni. Kenapa Tuhan bilang seperti itu? Karena saat kita menyimpan dendam dan amarah, sebenarnya kita sudah berdosa. Tuhan akan mengampuni setiap dendam dan amarah kita dengan hal yang simple.. Mengampuni.. Hanya itu..
Ada 3 prinsip yang salah dari mengampuni yang banyak orang lakukan.
1). Mengampuni tidak berarti melupakan.
Ini rasana salah satu hal yang sulit. Mengampuni dan Melupakan. Sepertina kita lebih mudah untuk mengungkit kesalahan yang orang lain perbuat, bahkan menjadikanna bahan ceng-cengan untuk diri kita sendiri. Seperti hal yang simple ajh. Ada teman saya yang terkenal dengan sifat "playboy"na sehingga dia tidak pernah menentukan wanita mana yang akan menjadi pendamping hidupna. Mungkin ada banyak wanita yang tersakiti karena temen saya ini, dan karena tersakiti, membuat wanita-wanita ini hanya bisa berbicara hal negative mengenai pria ini. Bahasa gaulna sekarang ini yaaahhh "sakitna ntuh di sini!"
Satu hal yang pasti, memory kesalahan itu akan tetap ada di dalam pikiran kita. Kita diberikan Tuhan otak yang begitu luar biasa untuk menyimpan memory untuk jangka panjang. Pertanyaanna, apakah kita mau mengampuni dan menghapus memory buruk tersebut dan dijadikan pembelajaran hidup kita? Atau kita mau mengampuni dan memasukkanna ke dalam recycle bin kita?
2). Mengampuni tidak berarti kita mendapat keadilan.
Banyak orang merasa dengan mengampuni, maka keadilan itu tidak didapatkan karena seharusna orang yang salah yang meminta maaf kepada kita, tetapi mengapa saya yang harus minta maaf? Tetapi ternyata mengampuni membuat diri kita lega. Itu jauh lebih indah daripada kita hanya mencari keadilan. Kita juga harus ingat jika hakim di atas segala hakim adalah Tuhan Yesus dan bukan diri kita sendiri.
3). Mengampuni tidak menjamin adanya perubahan.
Apa yang terjadi setelah pengampunan diberikan? Akankah orang yang diampuni berubah? Jangan pernah meminta orang lain berubah sebelum hidup kita berubah menjadi lebih baik. Tiba-tiba saya teringath dengan kata-kata dari Tuhan Yesus, saat ada seorang wanita ingin dilempari batu oleh ahli farisi dan taurat, dan kemudian Yesus hanya menulis di tanah dengan tulisan siapa yang merasa tidak berdosa hendaklah dia yang melempar batu duluan. Kita mungkin seperti orang farisi yang tidak ngaca jika kita juga adalah manusia berdosa. So, jangan minta orang lain berubah dahulu jika kita belum berubah.
Soooo,, apa ajh sih alasan kita untuk mengampuni sesama?
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kol 3:13).
Gbu.. Tuhan Yesus memberkati..
-josephine gabrielle-
Sumber:
http://artikel.sabda.org/indahnya_mengampuni
http://www.warungsatekamu.org/2015/02/tiga-hal-yang-kugumulkan-dalam-mengampuni/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar